PELAJAR INDONESIA KRISIS MEMBACA
SIAPA YANG SALAH ??
Aku
menangis dalam hati mendengar hal itu, andai
saja Bung Karno masi hidup dan mendengar
perkataan kawan-kawan itu entah apa yang
akan di katakan pada mereka. Bagaimana mau pintar ?
Bagaimana mungkin mau
memajukan Indonesia?
Kemudian kita berpikir sedikit tentang perpustakaan, dimana hampir disetiap seokolah ataupun kampus memiliki perpustakaan. selama ini perpustakaan hanya dianggap tempat menyimpan buku. Hanya sedikit pelajar yang memiliki kesadaran untuk berkunjung ke perpustakaan pada waktu luang. Sebagian besar mereka menggunakan waktu luang untuk nongkrong atau sekadar mengobrol yang tidak jelas. Jikapun ada yang berkunjung ke perpustakaan, itu hanya pada saat-saat tertentu, misalnya pada saat ada tugas dari guru ataupun hanya sekedar memanfaatkan fasilitas perpustkaan lainnya seperti wifi . Para siswa tidak memiliki kesadaran akan arti penting membaca.
Kemudian kita berpikir sedikit tentang perpustakaan, dimana hampir disetiap seokolah ataupun kampus memiliki perpustakaan. selama ini perpustakaan hanya dianggap tempat menyimpan buku. Hanya sedikit pelajar yang memiliki kesadaran untuk berkunjung ke perpustakaan pada waktu luang. Sebagian besar mereka menggunakan waktu luang untuk nongkrong atau sekadar mengobrol yang tidak jelas. Jikapun ada yang berkunjung ke perpustakaan, itu hanya pada saat-saat tertentu, misalnya pada saat ada tugas dari guru ataupun hanya sekedar memanfaatkan fasilitas perpustkaan lainnya seperti wifi . Para siswa tidak memiliki kesadaran akan arti penting membaca.
Tapi aku heran . Apakah karena buku-buku bacaan nya yang
kurang menarik dan bermutu ? Atau karena
pelayanan yang kurang menarik ? atau karena ruangan perpustakaan sempit, kurang
ventilasi hingga menjadi gerah ? Sudah-sudah lupakan saja mengenai
pertanyaan itu. Kita lanjut lagi . Karena membaca sebenarnya bisa dilakukan
dimana saja . Itu hanya tergantung niat fan kesadaran masing-masing. Hahhaha.
Tentunya
tau la klian kan kalo kurang kegemaran membaca ya pasti minim akan sumber informasi. Padahal
pernah ku baca kan kalo buku itu adalah jendela dunia. Jadi jangan heran klian
kalo rendahnya minat baca di kalangan siswa
dan masyarakat Indonesia pada umumnya, berpengaruh buruk terhadap kualitas pendidikan.
Coba ku tanya sama kalian uda berapa tahun Indonesia merdeka ?? Ya betul itu
sudah tujuh puluh tujuh tahun bangsa Indonesia merdeka, tetapi permasalahan
kualitas pendidikan masih berada dalam potret yang buram. Kualitas pendidikan
bangsa Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara tetangganya.
Tetapi aku semakin sadar kurangnya
kegemaran membaca di kalangan siswa terjadi karena siswa terbiasa dicekoki oleh
informasi instan yang mudah diperoleh dari media elektronik semisal televisi.
Di samping itu, remaja menganggap bahwa kegiatan membaca adalah hal yang
membosankan. Padahal, dengan membaca, cakrawala pengetahuan kita akan terbuka
dan menjadikan kita lebih tanggap pada lingkungan sekitar.
Jadi kawan-kawan rajin- rajin la kita membaca biar nilai Programme for Internasional
Student Assessment (PISA) meningkat dari tahun ke tahun . Biar jangan bingung
klian ku jelaskkan sikit yah . PISA merupakan sistem ujian yang di lakukan oleh
Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), untuk
mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia. Setiap tiga tahun,
siswa berusia 15 tahun dipilih secara acak, untuk mengikuti tes dari tiga
kompetensi dasar yaitu membaca, matematika dan sains. Pisa mengukur apa yang
diketahui siswa dan apa yang dapat dia lakukan (aplikasi) dengan
pengetahuannya. Tema survei digilir setiap 3 tahun, tahun 2015 fokus temanya
adalah kompetensi sains. Jadi untuk 2015 indonesia hanya berada pada
urutan 62 dari 67 negara yang dievaluasi.
Mengingat pentingnya membaca dalam
kehidupan sehari-hari, khususnya bagi para pelajar, tingginya minat baca bagi
para pelajar wajib dipupuk. Hal itu karena membaca amat menentu-kan prestasi
seorang pelajar. Kemudian aku bepikir kek mana pulak prestasi belajar siswa akan tinggi kalo para siswa enggan membaca baik buku-buku yang
berhubungan dengan pelajaran ataupun buku-buku lainnya yang menunjang ?
Kemudian kan makin penasaran aku ,
rupanya karena ada satu saingan buku-buku ini makanya makin malas orang-orang
ini membaca.. Uda tau kau apa ? Yaudah baca lagi ke bawah yahh.. Uda kutulis
jawabannya disitu .
Saingan barunya buku itu adalah
Hanphone .
Pepatah buku adalah jendela dunia seperti yang uda tersurat di atas,
sekarang ini sudah hampir punah. Frasa jendela
dunia kini seperti tergantikan oleh layar sentuh setiap gawai yang mungkin
hampir setiap orang miliki, tak terkecuali anak-anak didik di sekolah maupaun
mahasiswa. Majunya teknologi serta dunia digital membuat masyarakat Indonesia
perlahan lupa akan bagaimana membaca buku. Alih-alih membaca buku, kita kini
lebih suka “berselancar” di dunia maya untuk mendapatkan informasi terkini.
Berkembangnya teknologi “jempol” (handphone,
smartphone, dll.= gawai) menggeser
minat manusia terhadap buku. Munculnya perangkat komunikasi bernama gawai yang menawarkan berbagai program
murah berkomunikasi menjadi salah satu penyebab rendahnya kemauan membaca
seseorang. Orang lebih seringlah menghabiskan waktunya untuk mengirim sms dan ngobrol lewat gawai daripada menghabiskan waktu untuk membaca,
walaupun isi komunikasi tersebut boleh dibilang kurang atau bahkan tidak penting.
Demikian juga dengan maraknya media sosial
yang menggunakan internet seperti instagram,
facebook, twitter, dan masi
banyak lagi, ternyata
mampu mengalihkan perhatian sebagian besar
orang dari kebutuhan membaca buku.
Jadi kalo menurut ku kan bisa la
kubilang kalo buku itu jauh lebih mewah daripada gawai atau handphone. Bah
jangan kaget kau , ada alasanku kenapa kukatakan gitu .
Ini alasan nya. Pernah kulihat fakta
bahwa sebuah keluarga yang lumayan berada, anggota keluarganya masing-masing
memiliki lebih dari satu gawai, tetapi tak ada tumpukan buku di rumah itu. Tapi
tau la kau kan kalo di Indonesia punya banyak atau tidaknya
buku tidak membuat seseorang lebih tinggi kasta sosialnya di masyarakat. Itulah
sebabnya ku katakan bahwa buku itu lebih eksklusif daripada gawai karena tidak
semua orang punya, tidak semua orang bisa. Hanya orang tertentu yang mam-pu
memilikinya, yaitu si gemar membaca.
Sebagai
masyarakat Indonesia saya merasa prihatin dengan kondisi minat baca, terutama
siswa dan mahasiswa kita saat ini. Haruskah mereka puasa membaca ? sampai kapan
? Kemudian jangan selalu kita salahkan
pemerintah . Ayok sama-sama intropeksi diri la kita wee....
Bagus Jo,ttp smngt
BalasHapusSelain informatif, esai ini juga lawak kali la. Bisa bisanya ko masukkan logat medan ko disitu :D
BalasHapuskeren, mantab kali lah
BalasHapus